Selasa, 08 November 2011

BE (like) A BEE


Beberapa waktu yang lalu di koran Kompas, dimuat sebuah artikel menarik mengenai lebah, berjudul "Tiada Lebah, Tiada Kehidupan", mengutip apa yang dikatakan fisikawan Albert Einstein mengenai mahluk kecil ini: "Jika lebah musnah dari muka bumi, manusia hanya akan sanggup bertahan selama empat tahun. Tak ada penyerbukan, tak ada tanaman, tak ada binatang lagi, tiada lagi manusia." Penghargaan terhadap lebah ini tidak saja diberikan oleh manusia, tetapi tidak kurang di dalam kitab Al Quran, lebah tercantum dalam salah satu ayatnya, malah dalam agama Hindu, Wisnu sebagai lambang kehidupan, digambarkan sebagai seekor lebah yang beristirahat di atas bunga Teratai.

Pada tahun 1980an, pada saat era industrialisasi dengan Total Quality Management (TQM) yang melanda negara ini, fokus perusahaan ditujukan pada peningkatan produktivitas. Pada era ini Departemen Tenaga Kerja mempergunakan figur semut hitam sebagai ikon pekerja keras dan produktivitas. Tetapi dengan hadirnya era pengetahuan dan informasi, ikon ini rupanya harus dirubah karena organisasi pembelajar juga dituntut menjadi organisasi yang selalu berbagi (sharing) dan belajar (learning). Apakah lebah dapat menjadi figur pengganti yang menggambarkan organisasi pembelajar di era pengetahuan? Ada beberapa atribut dari lebah yang mencerminkan knowledge workers dalam sebuah organisasi berbasis pengetahuan:

1. Lebah disiplin dan berkolaborasi secara terintegrasi
- Lebah merupakan sosok arsitek alam yang paling disiplin. Bila kita perhatikan bagaimana mereka membangun sarangnya, secara konsisten mereka membangun sarangnya dalam format hexagonal dengan ukuran yang standar.
- Pembangunan sarangnya dilakukan oleh kelompok-kelompok lebah dengan saling berkolaborasi secara terintegrasi. Walaupun kelompok-kelompok lebah tersebut membangunnya dari sisi yang berbeda, namun sarang tersebut akan bertaut secara sempurna.
- Menurut para ahli, pemilihan bentuk hexagonal sendiri merupakan pemilihan bentuk yang cerdik karena bentuk ini merupakan bentuk yang optimal untuk penggunaan ruang tanpa ada tempat terbuang dimana mereka menyimpan benang sari yang mereka kumpulkan dan madu yang mereka produksi.

2. Lebah setiap hari bekerja keras menghisap intisari bunga dan mengumpulkan di sarangnya
- Lebah-lebah setiap hari bekerja dengan menghinggapi bunga-bunga untuk mengambil benang sarinya dan sekaligus melakukan pembuahan. Lebah-lebah hanya menghisap sari pati bunga saja, ia hanya mengambil intinya dan membiarkan yang lain.
- Benang sari ini diproses secara alamiah menjadi madu. Lebah terbang mencari pollen dan madu dengan menghinggapi beribu-ribu bunga yang sedang merekah. Lebah menghisap setetes nectar dengan alat hisapnya dan menyimpannya ke dalam kantong madu yang ada di adalam tubuhnya.
- Untuk memperoleh sekitar 375 gram madu, maka lebah harus mondar mandir sebanyak 75.000 kali untuk mengambil nectar. Untuk jumlah madu yang dikumpulkan sebanyak itu lebah pekerja menempuh jarak terbang yang setara dengan 4-6 kali keliling bumi. Bayangkan betapa sibuknya sebuah koloni lebah. Lebah madu biasanya mencari nectar yang berjarak sekitar 3 km dari sarangnya.

3. Lebah berbagi - memberikan manfaat bagi kepentingan orang banyak
- Madu lebah terbukti berkhasiat baik untuk kekuatan maupun pengobatan berbagai macam penyakit, dan sebagaimana dikatakan dalam Al Quran: "...Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia..." (QS 16:69).
- Lebah memproduksi madu lebih dari apa yang dibutuhkannya, menurut para ahli tidak benar bahwasanya lebah akan 'protes' bilamana manusia atau mahluk lainnya turut mengkonsumsi jerih payahnya. Konon mereka sadar akan perannya untuk berbagi, mereka memiliki abundance mentality.

Pembelajaran

Tulisan ini tidak mengajak pembaca untuk menjadi lebah, walaupun judulnya demikian, namun ada beberapa sifat-sifat mahluk Tuhan ini yang patut kita tiru sebagai anggota dari komunitas Knowledge Based Organization. Lebah meneladani kepada kita sebagai mahluk yang memberikan manfaat bagi orang banyak, dengan menghisap intisari, memprosesnya dan mengumpulkannya dalam sebuah 'data base' yang bukan semata-mata untuk dirinya sendiri. Maka kalau Albert Einstein mengatakan "tiada lebah, tiada kehidupan", maka tidak berlebihan kalau dalam konteks knowledge management dikatakan bahwa 'tiada knowledge workers, maka perusahaan anda akan punah terlindas knowledge based organization yang lebih siap.'

Amman Wahju,
Knowledge Management Senior Consultant
Dunamis Consulting


Ditulis untuk DunamisNewsletter edisi November 2011

Good Manager atau Nice Manager?


Kalau anda seorang pemimpin, manajer, team leader atau kepala keluarga, gaya mana yang sebaiknya anda pergunakan dalam menghadapi bawahan anda? Apakah sebagai "good manager" (= good for the company, target oriented dan menegakan peraturan) ataukah sebagai "nice manager" (= nice to the people dan menciptakan harmoni)? Ini adalah pertanyaan klasik, dan sepertinya seseorang hanya mempunyai salah satu pilihan saja, atau seseorang hanya bisa memerankan salah satunya saja.

Kalau kita melihat organisasi dalam 2 aspek, yaitu aspek teknis dan aspek manusia, maka organisasi yang berfokus pada aspek teknis dan lemah dalam aspek manusia ibarat sebuah Concentration Camp, dimana peraturan ditegakan dan aspek-aspek kemanusiaan diabaikan. Sedangkan organisasi yang kuat dalam aspek manusia namun lemah dalam aspek teknis, diibaratkan sebagai sebuah Country Club atau perkumpulan arisan saja.

Beberapa waktu lalu, Liputan6.com memuat sebuah artikel berisi penelitian yang menunjukkan bahwa mereka yang bekerja tanpa pamrih dan memiliki kepribadian yang hangat, dipandang sebagai calon yang kurang menarik untuk menjadi pemimpin dan diabaikan untuk promosi. Kecenderungan mementingkan orang lain dianggap sebagai tanda kelemahan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mereka dengan kepribadian ramah memang paling populer di kelompoknya, tapi mereka juga dianggap lemah atau mudah ditipu. Mereka yang memiliki perilaku yang lebih dominan dan agresif dipandang sebagai kepribadian alpha.

Namun dalam artikel itu disebutkan pula bahwa Rob Kaplan, mantan pejabat di Goldman Sachs dan sekarang Profesor di Harvard Business School, tidak setuju dengan konsep mengkaitkan jenis kepribadian tertentu dalam menjadi seorang pemimpin. "Saya tidak percaya bahwa kualitas itu yang membuat orang bekerja sebagai seorang pemimpin," jelasnya. Ia menambahkan bahwa nilai-nilai yang kuat serta cita-cita yang tinggi lah yang cenderung membuat mereka berpotensi menjadi pemimpin. "Saya tidak mengatakan Anda harus menjadi pria atau wanita yang baik untuk menjadi CEO, tapi saya pikir Anda harus memiliki integritas, nilai, dan bekerja bersama memajukan orang," katanya.

Gaya kepemimpinan mana yang dipilih di suatu perusahaan juga tercermin dari nilai-nilai perusahaan tersebut. IBM, misalnya, 2 dari 7 Basic Beliefs-nya secara spesifik mencantumkan kedua aspek di atas: "Respect for the Individual" dan "Best results for the shareholder." Namun banyak juga perusahaan yang mengemukakan hal tersebut secara tersirat. Tapi apapun itu setiap organisasi sadar bahwa tujuan perusahaan untuk mencapai sustainable superior performance tidak mungkin tercapai tanpa engaged employees dimana untuk mengelola keduanya perlu keseimbangan.

Rupanya nenek moyang orang Sunda sudah mempunyai konsep mengenai kepemimpinan yang seimbang ini. Mereka menasihatkan bahwa untuk menjadi pemimpin hendaknya: "Teuas peureup, leuleus usap," yang berarti: "Keras kepalannya (buat menegakan peraturan), dan halus usapannya (buat menghargai)" dan keduanya dilakukan oleh tangan yang sama. Dapat disimpulkan bahwa seorang pemimpin harus siap untuk menghargai dan menghukum. Dalam nasihat ini tersirat bahwa seyogyanya seorang pemimpin harus memakai keduanya, sesuai dengan situasi dan kondisi yang diperlukan. Kemampuan untuk menyeimbangkan keduanya akan menentukan keberhasilannya dalam memimpin. Keberadaan seorang good manager akan dikenang dalam sejarah perusahaan untuk prestasi-prestasi yang telah dicapainya, sedangkan keberadaan seorang nice manager akan selalu disimpan dalam hati karyawannya.

Amman Wahju,
Knowledge Management Senior Consultant
Dunamis Consulting


Ditulis untuk DunamisNewsletter edisi November 2011