Kumpulan tulisan mengenai management - khususnya Knowledge Management,yang belum maupun sudah diterbitkan dalam publikasi lain.
Senin, 05 Desember 2011
MENYAMPAIKAN OPEN FEEDBACK
Dalam sebuah pertemuan dilakukan sharing mengenai implementasi nilai Open Feedback di perusahaan tersebut. Salah satu hal yang dibahas adalah keluhan karyawan pada saat Exit Interview dimana mereka mengeluhkan prilaku penyampaian 'negative feedback' di depan karyawan-karyawan lainnya. Pernyataan ini membuat saya tersenyum, mengingatkan pada masa lalu, di awal-awal berumah tangga.
Dalam kehidupan suami-isteri (baca: hubungan sesama orang dewasa) pasti ada waktu dimana ada hal-hal yang perlu dipuji atau diapresiasi dari pasangan kita, dan ada juga hal-hal yang bisa membuat hubungan kita korslet. Biasanya korslet terjadi karena ada kesalahan di salah satu pihak, kekecewaan karena satu dan lain hal, atau karena miscommunication. Masalahnya adalah bagaimana kita harus segera melakukan re-alignment atau pelurusan permasalahan dari korslet ini.
Untuk acara apresiasi atau memuji kami memilih untuk melakukannya di depan seisi rumah. Masih terbayang wajah-wajah dari pasangan kita, anak-anak, dan mertua (kalau lagi datang berkunjung), yang penuh senyum dan kegembiraan mendengar pujian tersebut. Tetapi untuk acara pelurusan, kami tidak memilih format diatas. Sudah menjadi kesepakatan sebelumnya, bahwa acara ini kalau isu-nya kecil maka akan dilakukan di kamar berduaan (and set the voice volume: low !). Namun bila dianggap isu besar, maka kami akan keluar berduaan naik mobil dan re-alignment dilakukan dalam mobil tersebut.
Alasan mengapa kami tidak melakukannya di rumah karena kami malu (baca: ja'im) sama 'malaikat-malaikat kecil kami', dan juga malaikat-malaikat beneran yang kami percaya menjaga keluarga kami. Mereka tidak perlu melihat ataupun mendengar korslet yang terjadi diantara kami.
Kesepakatan lainnya dalam proses pelurusan ini ialah: Kalau yang satu sedang bertindak sebagai "API" maka yang lainnya harus menjadi 'AIR' (baca: ngambeknya gantian ya), dan semua harus back to normal (baca: membuka pintu maaf dan saling memperbaiki) setibanya di rumah. Alhamdulillah, dengan praktek ini kehidupan pernikahan kami terjaga untuk puluhan tahun dan dipenuhi dengan sweet memories, dan kami berharap anak-anak pun merasakan itu dan bisa mencontoh bilamana mereka kelak berumah tangga, Amien.
Saya yakin bagaimana kita mengelola keharmonisan rumah tangga dapat diterapkan di tempat kerja. Memberi dan menerima feedback yang efektif dimulai dari "cara" feedback itu disampaikan.
Amman N. Wahju
Senior Knowledge Management Consultant
Dunamis Consulting
Dikutip dari DunamisNewsletter edisi Desember 2011
Langganan:
Postingan (Atom)