Masih Berlakukah Kegiatan Gugus Kendali Mutu?
Pada tahun 1980an, saat era industrialisasi masih mendominasi dengan Total Quality Management (TQM), fokus perusahaan ditujukan pada peningkatan produktivitas dengan QCDSM (Quality, Cost, Delivery, Safety dan Morale). Salah satu pendekatan yang digunakan adalah Gugus Kendali Mutu (GKM) atau Quality Control Circle (QCC) dimana sekelompok karyawan yang terdiri dari 3-8 orang dari unit kerja yang sama, mengadakan pertemuan dengan sukarela, berkala dan berkesinambungan untuk melakukan kegiatan pengendalian mutu di tempat kerjanya dengan menggunakan alat kendali mutu dan proses pemecahan masalah. Kegiatan ini diikuti oleh karyawan 'kerah biru' dari berbagai perusahaan manufacturing dari berbagai industri. Disamping kegiatan GKM juga mulai dikenal kegiatan SS (Suggestion System) atau sumbang saran, sedangkan untuk level 'kerah putih', dilakukan kegiatan Business Process Improvement yang diadakan secara lintas fungsi.
Walaupun sepertinya kegiatan-kegiatan di atas sudah mewabah, namun tidak semua perusahaan melakukannya dengan sepenuh hati. Beberapa perusahaan masih melihatnya sebagai kegiatan 'industrial relations', atau istilah yang dipergunakan pada saat itu adalah untuk meng-'wongake' (memanusiakan) karyawannya. Para karyawan diberi kesempatan untuk mengadakan pertemuan, memecahkan masalah dan presentasi di depan manajemen, bahkan di depan konfrensi QCC bertaraf nasional atau internasional. Saat kegiatan-kegiatan tersebut berlangsung, masih ada pimipinan perusahaan yang melihatnya dengan sebelah mata. Mereka tidak sepenuhnya berkomitmen dan masih mempertanyakan tangible results apa yang bisa diharapkan dari kegiatan-kegiatan tersebut. Akibatnya, di perusahaan-perusahaan ini kegiatan tersebut hanya merupakan 'flavor of the month' dan berguguran satu persatu.
Kegiatan GKM Dalam Era Pengetahuan
Bilamana di atas disebutkan kata 'beberapa' perusahaan, berarti tidak semua perusahaan melihat kegiatan-kegiatan tersebut hanya sebagai kegiatan industrial relations karena ada juga yang melakukannya dengan komitmen penuh dan secara konsisten dari waktu ke waktu. Mereka melakukan perubahan dan penyesuaian dalam pendekatan dan metodologinya, dan ternyata perusahaan-perusahaan ini lah yang sekarang merasakan manfaatnya.
Dengan hadirnya era pengetahuan (Knowledge Era), telah terjadi pergeseran paradigma. Peningkatan produktivitas tidak hanya dilahirkan dari perbaikan proses dan metodologi akan tetapi juga dari dalam diri karyawan. Kegiatan GKM dan community of practices (CoP) lainnya telah melahirkan karyawan yang bukan saja telah di-wongake, tetapi terlahir karyawan-karyawan pembelajar, karyawan yang mampu melahirkan inovasi-inovasi.
Forum-forum CoP bukan saja hanya sebagai tempat karyawan untuk berlatih melakukan problem solving atau presentasi, melainkan telah menjadi arena dimana mereka bisa berkolaborasi, tempat bertumbuhnya budaya belajar dan berbagi. Peran Teknologi Informasi menjadi lebih nyata dan berarti dalam mendukung proses pembelajaran ini. Database pelanggan, dan pemanfaatan portal menjadi lebih tertata untuk meningkatkan produktivitas dan bermuara pada peningkatan nilai bagi perusahaan.
Amman Wahju
KM Senior Consultant
Dunamis Consulting
Ditulis untuk DunamisNewsletter edisi Oktober 2011
Tidak ada komentar:
Posting Komentar