Sabtu, 22 Oktober 2011

KNOWLEDGE MANAGEMENT - INOVASI

NITENI, NIROKE, NAMBAHI

Sekitar 1950an, majalah mingguan Star Weekly memuat artikel berikut gambar produk sepeda motor Jepang yang ditiru dari motor-motor buatan Eropa yang pada waktu itu merajai pasar motor di seluruh dunia. Ada tiruan sepeda motor dari merek BSA, Jawa, Ducati, Vespa, Lambreta, dan sebagainya. Pada waktu itu Jepang tidak hanya melakukan 'copy-and-paste' sepeda motor saja, banyak produk-produk lainnya.
Produk-produk tersebut serupa tapi tidak sama. Yang jelas dari penampilannya terlihat bahwa kualitasnya jauh berbeda dari produk aslinya. Pembaca saat itu merasa 'geli' melihat artikel tersebut bahkan pada waktu itu ada label bertuliskan 'produk made in Japan' untuk produk-produk yang kurang bagus. Karena pada saat itu konsumen masih mengunggulkan produk-produk 'made in Germany' atau produk berasal dari negara-negara Eropa lainnya.
Tapi beberapa dekade kemudian, seperti kita lihat sekarang, produk-produk Jepang mampu menguasai pasar dunia sebagai produk-produk innovative dan berkualitas tinggi, bahkan melesat meninggalkan produk Eropa dan Amerika. Kita sudah sama-sama mengetahui bagaimana Jepang melakukannya, mulai dengan 'nyontek' apa adanya, dan kemudian secara konsisten melakukan perubahan seperti peningkatan fitur pada produk, desain yang lebih ergonomis, dan sebaganya. Inovasi demi inovasi dilakukan dengan semangat Kaizen, sehingga dapat mengungguli produk asalnya.
Hal yang sama kita saksikan sekarang dengan apa yang dilakukan oleh negeri China. Dengan semangat 'Yi kung yi san' (kakek tua memindahkan gunung), produk-produk 'copy-and-paste' asal China mulai membanjiri pasar walaupun dengan kualitas yang masih pas-pasan.

PERAN INOVASI DI ERA KNOWLEDGE
Di era industri pemimpin organisasi telah melihat pentingnya inovasi, namun dalam era pengetahuan dan informasi seperti sekarang, pentingnya inovasi menjadi lebih menonjol lagi. Untuk mampu bertahan perusahaan perlu mampu berinovasi dengan frekuensi yang lebih cepat dan dengan continuous improvement. Disamping nyontek produk, dalam berinovasi perusahaan juga menyontek sistem atau proses yang telah terbukti sukses di tempat lain.

Sebagai contoh Henry Ford melihat bagaimana sistem produksi 'ban berjalan' dari pabrik pengalengan daging dilakukan, kemudian ia mengembangkan dan menerapkannya untuk industri mobil yang berdampak menurunnya secara dramatis waktu untuk proses perakitan serta biaya. Atau kita lihat sekarang bagaimana sistem multi-level marketing atau franchising banyak berkembang.
Memang untuk berinovasi kita tidak perlu gengsi untuk mulai dengan nyontek. Tetapi jangan berhenti setelah nyontek. Jangan puas saat bisa membuat suatu produk dan menjualnya. Produk itu perlu dikembangkan terus-menerus, sebagaimana apa yang diajarkan oleh K. H. Dewantara, tokoh pendidikan Indonesia yang juga pendiri Perguruan Taman Siswa, bahwa untuk maju kita harus bisa: Niteni, Niroke, Nambahi.

Amman Wahju
Senior KM consultant
Dunamis Consulting

Ditulis untuk DunamisNewsletter edisi Juni 2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar