MENGOPTIMALISASIKAN PENGELOLAAN SOCIAL CAPITAL
Sejak abad pertengahan, para pekerja kerajinan keramik di Yunani, seperti tukang besi, pembuat patung, dan kerajinan lainnya tergabung dalam dua 'kumpulan.' Mereka menjadi bagian dari kelompok kerja di perusahaannya atau tergabung dalam kelompok-kelompok kegiatan sosial atau ibadah keagamaan. Hal yang serupa juga terjadi di negara kita sejak jaman Belanda dimana para pamongpraja selain berfungsi sebagai pamongpraja, juga bergabung dalam kelompok-kelompok musik, olahraga, pengajian, kebudayaan, dan lain-lain. Kegiatan 'extra curriculum' ini tidak saja bergerak dalam bidang kesenian, agama, atau hobi; tetapi bisa juga diarahkan pada kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan kemajuan organisasi.
Di setiap organisasi umumnya terdapat dua jenis struktur: formal dan informal. Struktur formal digambarkan dalam kotak-kotak yang jelas disertai garis-garis komandonya. Sementara kelompok informal berinteraksi secara self-organized. Hubungan-hubungan diantara anggota kelompok berlangsung secara individual. Mereka berkerja sama, berbagi pengetahuan, memecahkan masalah bersama, bertukar pengalaman, dan sebagainya. Kegiatan kelompok informal ini disebut sebagai social capital.
Janine Nahapiet dan Sumantra Ghosal dalam artikelnya "Social Capital, Intellectual Capital and the Organization Advantage" mendefinisikan social capital sebagai: "the sum of the actual and potential resources embedded within, available through, and derived from the network of relationship possessed by an individual or social unit." Dengan kapasitasnya sebagaimana tersebut diatas, bilamana kegiatan kelompok ini dikelola dengan baik dan terarah oleh struktur formalnya, mereka akan dapat memerankan peran yang penting bagi organisasi secara keseluruhan. Berbagai kegiatan dilakukan dalam kegiatan organisasi informal ini seperti community of practice, sharing session, pembangunan knowledge portal.
Di era pengetahuan dan informasi, yang dilengkapi dengan karakteristik globalisasi, perubahan terjadi lebih cepat dan lebih kompleks. Knowledge workers tumbuh subur dengan kesadaran bahwa mereka memiliki banyak pilihan. Karena itu adalah kesia-siaan bilamana organisasi tidak mengelola social capital dengan baik dan benar. Di era ini, tidaklah cukup bagi organisasi hanya dengan mengandalkan program people development semata dari yang ada di bawah struktur formal Human Resources Division saja, atau hanya mengandalkan lahirnya inovasi-inovasi dari fungsi Research & Development, atau mengelola pelanggan hanya dengan memiliki database pelanggan atau aplikasi CRM di komputer perusahaan saja. Untuk menjadi pemenang di era ini, organisasi harus mampu mengoptimalkan kekuatan yang ada baik yang ada di struktur formal maupun strtuktur informalnya.
Namun tetap saja prasyarat yang diperlukan untuk dapat menggerakan Social capital itu adalah adanya commitment, involvement dan leadership dari manajemen puncak. Serta menumbuh-kembangkan budaya pembelajaran dan budaya berbagi pengetahuan dari anggota organisasi.
Amman Wahju
Senior Consultant
Dunamis Consulting
Ditulis untuk DunamisNewsletter edisi Juli 2011
Tidak ada komentar:
Posting Komentar